Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta


Ketersediaan : Tersedia

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta



Image result for Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

source : https://www.wisatania.com/museum-benteng-vredeburg-yogyakarta

Jalan Jenderal A. Yani No. 6 Yogyakarta INDONESIA 55122
Telp: (0274) 586934, 510996
Fax: (0274) 586934

Jam Kunjungan:
Selasa - Kamis 07.30-16.00
Jumat - Minggu 07.30-16.30


Sejarah Singkat
Benteng pertama kali dibangun pada tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I atas permintaan Belanda yang pada masa itu Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa dipimpin oleh Nicolaas Harting. Adapun maksud bangunan benteng dibangun dengan dalih untuk menjaga keamanan keraton dan sekitarnya, akan tetapi dibalik itu maksud Belanda yang sesungguhnya adalah memudahkan dan mengontrol segala perkembangan yang terjadi didalam keraton. Benteng pertama kali dibangun keadaannya masih sangat sederhana, temboknya hanya dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren, dan bangunan didalamnya terdiri atas bambu dan kayu dengan atap hanya ilalang, dibangun dengan bentuk bujur sangkar, yang di keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Oleh Sultan keempat sudut itu diberi nama Jaya Wisesa (sudut barat laut), Jaya Purusa (sudut timur laut), Jaya Prakosaningprang (sudut barat daya), dan Jaya Prayitna (sudut tenggara).

Kemudian pada masa selanjutnya, Gubernur Belanda yang dipimpin oleh W.H. van Ossenberg mengusulkan agar benteng dibangun lebih permanen agar lebih menjamin keamanan. Kemudian tahun 1767, pembangunan benteng mulai dilaksanakan dibawah pengawasan seorang ahli ilmu bangunan dari Belanda yang bernama Ir. Frans Haak dan pembangunan baru selesai tahun 1787, hal ini dikarenakan Sultan HB I sedang disibukkan dengan pembangunan keraton. Setelah pembangunan benteng selesai kemudian diberi nama 'Rustenberg' yang berarti benteng peristirahatan. Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga mengakibatkan rusaknya sebagian bangunan benteng. Setelah diadakan perbaikan, nama benteng diubah menjadi 'Vredeburg' (benteng perdamaian). Hal ini sebagai manifestasi hubungan antara Belanda dan keraton yang tidak saling menyerang.


Harga Tiket Masuk

  • Dewasa: Rp 3.000,-
  • Dewasa Rombongan Rp 2.000,-
  • Anak Rp 2.000,-
  • Anak-anak Rombongan: Rp.1.000,-
  • WNA Rp 10.000,-

**Harga masuk bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan pengelola


Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Ruang Pertunjukan 
  • Ruang Seminar, Diskusi, Pelatihan dan Pertemuan 
  • Audio Visual & Ruang Belajar Kelompok 
  • Hotspot gratis
  • Pemandu
  • Ruang Tamu 
  • Mushola 
  • Kamar mandi

Koleksi Museum
Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta menyajikan koleksi-koleksi sebagai berikut:

  1. Koleksi Bangunan:
  • Selokan atau parit, dibuat mengelilingi benteng yang pada awalnya dimaksudkan sebagai rintangan paling luar terhadap serangan musuh yang kemudian pada perkembangan selanjutnya karena sistem kemiliteran sudah mengalami kemajuan hanya digunakan sebagai sarana drainase atau pembuangan saja.
  • Jembatan, pada awalnya dibuat jembatan angkat (gantung), tetapi karena berkembangnya teknologi khususnya kendaraan perang kemudian diganti dengan jembatan yang paten.
  • Tembok (benteng), lapisan pertahanan sesudah parit adalah tembok (benteng) yang mengelilingi kompleks benteng, berfungsi sebagai tempat pertahanan, pengintaian, penempatan meriam-meriam kecil maupun senjata tangan.
  • Pintu gerbang, dibangun sebagai sarana keluar masuk di kompleks benteng. Pintu gerbang tersebut berjumlah tiga buah yaitu di sebelah barat, timur, dan selatan. Tetapi khusus sebelah selatan hanya dibuat lebih kecil saja.
  • Bangunan-bangunan di dalam benteng (di bagian tengah benteng) yang berfungsi sebagai barak prajurit dan perwira, yang kemudian pada perkembangan selanjutnya difungsikan sebagai tangsi militer.
  • Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949.
  1. Koleksi Realia, merupakan koleksi yang berupa benda (material) yang benar-benar nyata bukan tiruan dan berperan langsung dalam suatu proses terjadinya peristiwa sejarah. Antara lain berupa: peralatan rumah tangga, senjata, naskah, pakaian, peralatan dapur, dan lain-lain
  2. Koleksi foto, miniatur, replika, lukisan, dan atau benda hasil visualisasi lainnya.
  3. Koleksi adegan peristiwa sejarah dalam bentuk diorama, yaitu:
  • Ruang Diorama I, terdiri dari 11 buah diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah yang terjadi sejak periode Perang Diponegoro sampai masa pendudukan Jepang di Yogyakarta (1825-1942)
  • Ruang Diorama II, terdiri dari 19 buah diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah sejak Proklamasi atau awal kemerdekaan sampai dengan Agresi Militer Belanda I (1945-1947)
  • Ruang Diorama III, terdiri dari 18 buah diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah sejak adanya Perjanjian Renville sampai dengan pengakuan kedaulatan RIS (1948-1949)
  • Ruang Diorama IV, terdiri dari 7 buah diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah periode Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai Masa Orde Baru (1950-1974)


Cari penginapan/homestay yg nyaman, dekat dengan pusat kota, terjangkau, dan mudah diakses?

Aldebaran Homestay jawabannya...

Letak yg strategis di dekat batas kota Yogya dan kabupaten Sleman, menjadikan homestay kami mudah dicari dan diakses oleh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Menawarkan kamar yang sejuk, luas, bersih, dan design zaman now. Menjadikan liburan di Jogja Anda semakin berkesan.

Tersedia juga sewa mobil atau motor dengan harga terjangkau

More info please contact : 082 242 519 444